Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts
“Ibuu…Risky pulaang ,” ucap Risky setengah berteriak sambil
membuka daun pintu.
Risky tertegun, disudut ruang tamu banyak sekali tetangga
yang duduk bersimpuh mengerumuni ibunya. Risky mencoba melangkah mendekat.
Sejurus kemudian Risky melihat ibunya menangis sambil menyebut-nyebut namanya.
“Ibuu..ibu kenapa, ini Risky bu.. ini piala yang Risky
janjikan kemarin, Risky berhasil jadi juara satu buu..,” teriak Risky mulai
dilanda kekhawatiran. Namun rupanya tak seorangpun mendengar teriakannya,
termasuk ibunya yang suara tangisannya semakin keras.
Belum terjawab keheranan Risky tentang apa yang terjadi,
tiba-tiba ia mendengar suara sirine mobil ambulans yang sepertinya berhenti
tepat di halaman rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuk beberapa
orang memakai seragam putih-putih dengan menandu seseorang, lalu mereka
membaringkan tubuh seseorang itu di meja ruang tamu. Seketika suasana rumah
menjadi gaduh. Jeritan ibunya semakin menjadi-jadi diiringi isak tangis orang-orang
disekitarnya.
Risky…Risky anakkuuu…,” teriak ibu Risky sambil mendekap
tubuh seseorang itu. Dipenuhi rasa penasaran, Risky kembali mendekati ibunya.
Alangkah terkejutnya ia melihat tubuh yang terbaring di meja itu yang tak lain
adalah tubuhnya.
“Ibuu..apa yang terjadi denganku..,” gumam Risky dalam hati.
Belum habis rasa terkejutnya, Risky mendengar orang yang
berseragam putih disamping ibunya mulai berkata kata.
”Bu..kami sudah berusaha, tapi penggumpalan darah di otak
anak ibu sangat parah, maafkan kami. Anak ibu sudah pergi ,” ucapnya lirih.
Risky mulai tahu apa yang terjadi. Ingatannya melayang pada
peristiwa beberapa jam yang lalu di lapangan bola. Saat ini tim Risky unggul 1
– 0 saat bertanding melawan tim SMP 45. Dimenit-menit akhir terjadi tendangan
bebas didekat mistar gawang yang menguntungkan pihak lawan. Risky yang berperan
sebagai salah satu pagar betis berusaha membentengi gawang supaya tidak terjadi
gol. Ia sempat melihat bola melayang sebelum akhirnya membentur bagian belakang
kepalanya ketika ia melompat sambil membalikkan badan. Setelah itu, ia tidak
ingat lagi apa yang terjadi kemudian.
“Jadi..jadi Risky sudah meninggal buu..,” Risky terisak
sambil berusaha meraih bahu ibunya. Tapi rupanya sang ibu tak bisa merasakan
sentuhan tangan Risky.
Risky mulai meneteskan airmata. Takut, sedih, cemas semua
bercampur jadi satu. Sebelum tahu apa yang harus ia lakukan, entah darimana
datangnya tiba-tiba ada sesosok bayangan putih menghampirinya.
“Ayahh…,” gumam Risky lirih.
“Risky..sudah waktunya Risky ikut ke rumah ayah yang
baru..,” ucap bayangan putih itu.
“Tapi ibu…,” jawab Risky sambil menoleh ibunya yang masih
tetap menangis.
“Jika tiba waktunya nanti, ibu pasti menyusul ke rumah kita
yang baru naak, “ kata bayangan putih itu seperti tahu perasaan Risky yang
enggan berpisah dengan ibunya.
Sekejab kemudian, Risky perlahan menghilang bersama sosok
bayangan itu. Entah kemana..hanya mereka yang tahu.
Saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara saat itu saya
masih kelas dua sekolah dasar sedangkan kakakku kelas satu SMP, ayahku merantau ke negeri seberang dan ibuku bekerja
sebagai pembantu rumah tangga, ayahku merantau sejak aku masih berumur satu
tahun jadi saya masih tidak mengenal sifat ayahku jika wajahnya saya bisa
melihat lewat foto yang terpampang di dinding rumahku, saya sangat rindu ayahku
.
Hari hari saya lewati bersama seorang ibu yang sangat
pekerja keras dan penyayang kepada anak-anaknya, suatu ketika pada pagi yang
diwarnai hujan yang deras serta petir yang menggelegar tiba-tiba ibu bertanya
padaku.
“dek!kamu pengen
rumah yang besar enggak?”
Dengan polosnya aku menjawab
“iya buk, aku pengen
banget!! Kayak di TV itu ada kolam renangnya!”
jawabanku tadi
membuat ibuku tersenyum lalu menghampiriku dan memelukku sambil berkata “kalau pengen rumah yang besar ibu gak bisa
kerja disini ibu harus pergi keluar negri”
“Keluar negeri itu dimana bu?”
“keluar negeri itu
sangat jauh disana itu banyak uangnya!”
Tiba-tiba petir menggelegar dan mengejutkan aku dan ibuku
seketika aku memelukku ibu erat-erat dan
aku bertanya
“siapa nanti yang menjaga aku ketika sepeti ini?”
“tiba-tiba ibu
melepas pelukanku dan pergi ke kamar sepertinya ibuku sedang menangis
Setelah pembicaraan itu hari-hari terasa jauh berbeda
kakakku sering menangis dan aku tak tau penyebabnya, ibu tidak bekerja seperti
biasanya dan menghabiskan waktu bersamaku
Suatu malam saat aku bersama ibuku aku bertanya ibu
“ibu kapan yang mau ke luar negeri?”
“seminggu lagi dek!”jawab ibu dengan mata yang berkaca-kaca
“apaaaa?? Ibu jangan tinggalin aku kalau ibu pergi siapa
yang akan melindungiku? Siapa yang akan menghiburku ketika aku sedang
menangis?”tanyaku sambil menangis
“ada pengganti ibu dek! Dia yang menjaga kamu da merawatmu!”
ujar ibu
“tapi tidak ada yang bisa mengganti sosok ibu di hatiku!”
Perbincangan itu berlanjut hingga larut malam tak tersa
akupun tertidur dipangkuan ibu
Seminggu itu terasa sangat sebentar
Hari terakhir bersama ibu sudah berada di depan mata
Aku bertanya pada ibu “ibu janji ya akan sering menelponku”
“ya ibu janji akan sering menelponmu dan kakakmu”
Sangat berat untuk melepas ibu tapi apa daya kebutuhanku dan
kakakku semakin banyak dan pemasukan minim sekali, aku mengerti keadaan
keluargaku
Dengan berat hati aku melepas ibuku dari pelukanku air
matapun sudah tak terbendung lagi akupun menangisi kepergian ibuku
Sebelum ibu naik bis ibu berkata padaku “jadilah anak yang
pintar nak, buktikan kalau kamu bisa berprestasi tanpa bimbingan ibu jangan
seperti ibu yang hanya bisa sekolah sampai SD”
Itulah kata terakhir yang diucapkan ibu untukku, setelah bis
yang dinaiki ibu sudah berangkat aku tetap mengingat kata-kata ibu aku berjanji
akan membuktikan kepada ibu dan semua orang kalau aku bisa berprestasi tanpa
ibu
Akupun belajar dengan sungguh-sungguh semua ini aku lakukan
demi ibuku
Dan ternyata impianku dan ibuku terkabul aku sekarang bisa
menjadi anak yang mampu berprestasi tanpa ibuku
Akhirnya kalimat itu sudah menjadi fakta bagi saya dan bagi
semua orang
Perpisahanku dengan Ibuku
Natiq H. Alim
16:33
Natiq H. Alim
16:33
Di ufuk timur, matahari belum tampak. Udara pada pagi hari
terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun pagi. Seorang anak mengayuh
sepedanya di tengah jalan yang masih lengang. Masih pagi sekali, dia harus
mengayuh sepedanya. Siapakah gerangan anak itu? Untuk apa dia melakukannya? Apakah
yang sebenarnya ia lakukan? Dan untuk apa? . Ia adalah seorang penjual Koran,
yang bernama Doni. Kesehariannya ia habiskan untuk menjual koran di jalanan. Tak
ada kenal lelah ia lakukan demi membantu orang tuanya.
Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai di tempat agen
koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Doni?” tanya Bang Karno. “Biasa
saja.”jawab Doni. Bang Karno mengambil sejumlah koran dan majalah yang biasa
dibawa Doni untuk langganannya. Setelah selesai, ia pun berangkat.
Ia mendatangi pelanggan-pelanggan setianya. Dari satu rumah
ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Doni setiap harinya. Menyampaikan koran
kepada para pelanggannya. Semua itu dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan
rasa penuh tanggung jawab.
Ketika Doni sedang mengacu sepedanya, tiba-tiba ia
dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah bungkusan plastik
berwarna hitam. Doni jadi gemetaran. Benda apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa
ketakutan karena akhir-akhir ini sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Doni
khawatir benda itu adalah bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba
membuka bungkusan tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah
kardus. “Wah, apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Doni segera membuka
bungkusan dengan hati-hati.
Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat kalung
emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati. “Milik siapa,
ya?” Doni membolak-balik cincin dan kalung yang ada di dalam kardus. Ia makin
terperanjat lagi karena ada kartu kredit di dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak
Alif. Kasihan sekali Pak Alif , rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.
Apa yang diperkirakan Doni itu memamg benar. Rumah Pak Alif
telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri tersebut terburu-buru,
bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya terjatuh. Doni dengan segera
memberitahukan Pak Alif. Ia menceritakan apa yang terjadi dan ia temukan.
Betapa senangnya Pak Alif karena perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia
sangat bersyukur, perhiasan itu jatuh ke tangan orang yang jujur. Sebagai
ucapan terima kasihnya, Pak Alif memberikan modal kepada Doni untuk membuka
kios di rumahnya. Kini Doni tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk
menjajakan koran. Ia cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan
untuk mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Doni digantikan oleh
saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari sebuah
kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.
Kejujuran Akan Mendatangkan Kebahagiaan
Natiq H. Alim
16:59
Saya adalah seorang anak tunggal, sejak kecil saya memang malas berolahraga, keluar
rumah, bahkan saya selalu bangun kesiangan, karna sifat saya, saya sering
diperingati dan ditegur oleh orang tua saya”jangan biasaka kebiasaan itu
nak”ujar orang tua saya”,tetapi tetap tdak berubah, kemudian saya dibimbing agr
meninggalkan kebiasaan tidak baik saya.
Lama kelamaan sayabisa dan tahu bahwa kebiasaan tersebut
kurang baik bagi kehidupan saya, saya semakin berusaha untuk lebih baik lagi
dan meninggalkan kebiasaan – kebiasaan tersebut, bahkan orang tua saya juga
tambah mendukung usaha saya.
Orang tua saya mendukung saya dengan cara mengajak saya
keluar rumah setiap hari di pagi hari “nak bagaimana kalau setiap pagi kita
olahraga”kata ibu saya”,”okelah bu, tapi kemana?”ujar sya sambil bertanya (pada
saat itu saya masih balita dan belum bersekolah).
Dulu tetangga saya masih sedikit bahkan jarang sekali ada
rumah di dekat rumah saya, hanya ada rumah yang belum selesai tetapi sudah
ditempati, itu saja masih ada dua rumah, yaitu, didepan rumah saya dan
disamping rumah saya. Jadi jika saya keluar rumah maka saya sulit mendapat
teman”teman gak ada gimana mau keluar rumah bu?”Tanya saya pada ibu.
Dan pada suatu pagi saya diberi saran olehbapak dan ibu agar
mengunjungi teman saya agar saya tidak kesepian”ayo nak kalau mau ikut ke rumah
temanmu” ujar bapak dan ibu”ayo ke rumahnya Surya anaknya bude ratmi
itukan?”ujar saya sambil bertanya.
Sebenarnya tempatnya tidak terlalu jauh, tetapi saya harus
jalan kaki dan jalurnyapun lewat di pinggir persawahan, perjalanannya seru
bahkan pemandangan sawahnya indah”bu sawah ini siapa yang buat ya?,apa yang
buat itu kebau?,masak sih kerbau bisa membuat sawah?”taya saya pada ibu sambil
melihat sawah dan kerbau.
Mungkin karna ibu malas menjawabnya maka bapakkupun yang
menjawabnya”sawah itu dibuat oleh petani, kerbau tdak bisa membuat sawah,
kerbau hanya bertugas membantu petani membajak sawah, dan petanilah yang
mengelola sawah”, ujar bapak.
“Tapi bagaimana cara petani mengeloa sawah?”Tanya saya pada
bapak, “petani mengelola sawah dengan cara menanami sawah dengan tanaman
seperti padi, jagung, tela, kacang dll, setelah petani menanami tanaman tersebut,
petani harus menjaga tanaman tanaman tersebut sari serangan hama seperti
belalang, ulat bulu, tikus dan burung burung, keudian ketika sudah waktunya
petanipun memanennya”kata bapak sambil menjelaskan denan serius.
Setelah lama kelamaan berjalan, saya merasa capek dan
menginginkan istirahat”capek banget, dari tadi jalan terus”ujar saya sambil
mengeluh, sayapun terus mengeluh . kemudian Bapak saya menawarkan untuk
menggendong saya”ayolah ikut bapak, gitu aja kok capek”ujar bapak, tanpa pikir
panjang, sayapun menerima ajakannya”ayolah” ujar saya.
Senang rasanya digendong olehnya. Rasa capek hilang
perjalanpun riang. Rupanya rasa senang tak bertahan lama, entah gara gara bapak
capek atau mungkin salah pijak tanah kamipun terperosok jatuh ke sawah.
Saya dan bapak saya ditertawakan oleh ibu”emangnya enak
mandi lumpu hahaha..”cakap ibu sambil tertawa, saya hanya tersenym melihat ibu
tertawa, untung saja kita jatuh di dekat tujuan jadi bisa minta baju ganti deh
ke temen saya”hey surya punya baju ganti gak yang cukup buatku”kataku sambil
mengeluh, “tentu ada dong, buat kamu kan”kata surya sambil tersenyu menahan
tertawa.
“Hey nak kenapa lumupur semua”ujar bude, “iya nih tadi saya
mandi lumpur” katasaya, udah mandi sana”kata bude,”iya bude” kata saya. Setelah
mandi saya ganti baju yang bukan punya saya melainkan punya teman saya. Bajunya
sampai sekarang masih aku simpan, tapi sudah tidak muat.
Mandi Lumpur
Natiq H. Alim
16:11
Natiq H. Alim
16:11

Setiap hari tak ada yang direnungkan sang istri, hanya rasa
bersalahnyalah yang selalu ada dibenaknya sehingga ia mempunyai niat untuk
menghindar dan menjauh dari suaminya dengan maksud agar suaminya resah dan
jenuh sehingga ada keinginan untuk menikah lagi, akan tetapi karena kuatnya
cinta sang suami sikap dan niat istrinyapun ia abaikan.
Sehingga pada suatu pagi ketika mereka hendak sarapan, sang
istri berkata lagi pada sang suami ”mas, aku sadar mas tidak akan bahagia
dengan pernikahan kita tanpa adanya buah hasil dari cinta kita, aku mau mas
sekarang menikah lagi supaya mas bisa mempunyai seorang anak, aku rela mas
meskipun anak itu terlahir dari perempuan lain aku terima”. Sekarang sang suami
tidak bisa menyanggah ataupun menanggapi dari keinginan sang istri yang sangat
kuat itu. ”pergilah mas, cari wanita yang bisa mas nikahi dan bisa memberikan
mas anak” lagi-lagi sang istri berkata.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan sang suami, karena
cintanya yang sangat besar kepada istrinya dan tidak mau istrinya terus-terusan
menangis maka ia akan memenuhi dan mengabulkan permintaan sang istri.
Pada suatu ketika akhirnya sang suami menemukan perempuan
yang bernama Ratna dan iapun mau menjadi istrinya serta mau menyerahkan bayinya
kepada suaminya bersama istri yang sudah diketahui sebelumnya. Mereka tinggal
dalam satu rumah, sang istri sangat akrab dengan Ratna apalagi ia sudah tau
bahwa Ratna sekarang sudah mengandung anak dari suaminya.
Sang istri rela melakukan dan mengabulkan setiap apa yang
dinginkan oleh Ratna demi keselamatan dan kesehatan janin yang ada pada
kandungan Ratna. Sang suami hanya bisa melihat apa yang dilakukan istrinya
kepada istri keduanya itu.
Sembilan bulan sudah Ratna hamil dan akhirnya ia melahirkan
di salah satu rumah sakit yang terletak di kawasan tempat mereka tinggal.
Betapa bahagianya sang suami dan istrinya melihat bayi yang dilahirkan Ratna
akan segera memanggilnya papa dan mama.tidak lama kemudian persalinanpun
selesai dan mereka pulang bersama-sama, entah kenapa di pikiran Ratna terbesit
sesuatu yang bertentangan dari perjanjian yang ia buat bersama keluarga suaminya
itu.
Hingga pada waktunya tiba istri dari suaminya itu ingin
meminta dan menggendong anak Ratna dengan suaminya itu. Tiba-tiba Ratna menepis
”tidak,, aku tidak akan menyerahkan bayi ini kepada kalian ”tapi kenapa Ratna? kamu
sudah janji mau memberikan bayi itu kepada kami” kata sang suami. ”iya itu
dulu, sekarang tidak lagi. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, aku
yang melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawaku, dan sekarang dengan mudahnya
kalian mau merebut anak ini dariku? lebih baik aku pergi dari sini sekarang,
dan kalian jangan macam-macam untuk mengambil bayi ini dariku”. Ratna? Ratna?
Tunggu Ratna, sang suami mencoba menahannya supaya tidak pergi namun sia-sia.
Sang istri hanya bisa menangis, menangis dan menangis. ”sudahlah,,
jangan menangis lagi, memang kita sudah di takdirkan hidup bersama tanpa adanya
seorang putera” sang suami mencoba menghibur istrinya. “maafkan aku mas, aku
kira dengan kita memiliki anak meskipun dari perempuan lain kita akan bahagia, ternyata
aku salah mas, maafkan aku”
Niat yang Baik Tak Selamanya Baik
Natiq H. Alim
08:27
Natiq H. Alim
08:27
Sabtu
siang disaat aku masih dalam pelajaran sekolah, saat itu suasana
kelas bagaikan rumah kosong, sunyi, mencekam, aura kelas itu bagaikan aura
hitam yang sangat menyeramkan. Ini bukannya aku membesar-besarkan hal yang
biasa, namun inilah yang aku rasakan bersama teman-temanku di kelas. Hari jam 2
siang guruku datang dengan sikap biasa awalnya, namun berubah ketika ada
sesuatu yang membuatnya jengkel. ialah ketidaktahuan siswanya untuk mengerjakan
tugas yang di berikan olehnya.
Hari
itu adalah mungkin bisa dibilang hari sial namun bisa juga menjadi sebuah
pembelajaran bagi aku dan teman-temanku. Kami diberikan tugas untuk menjawab soal
dan mengerjakannya satu persatu dari
kami ke depan kelas. Tibalah waktunya satu persatu dari temanku maju ke papan
untuk mengerjakannya. Satu anak, dua anak, berhasil mengerjakannya. Kemudian tibalah
soal ke-3. Salah seorang temanku laki-laki gilirannya untuk mengerjakannya.
Setelah
beberapa lama guru menampakkan kekesalannya, sambil menuntun temanku
mengerjakannya. Setelah hampir setengah jam ditambah kesalnya guruku akhirnya
temanku berhasil. Kini saat giliran anak lainnya untuk melanjutkan soal
berikutnya. Anak ke empat maju, kemudian kelima, enam, dan akhirnya tujuh. Awalnya
yang ketujuh ini sempat kebingungan namun bisa menyelesaikannya. Hingga tiba
giliranku untuk mengerjakannya. Dari jam awal aku berusaha mengerjakannya
sampai aku menanyakan ke beberapa temanku, tapi tetap saja aku tidak bisa
mengerjakannya.
Hingga
tiba akhirnya aku hampir putus asa aku bertanya kepada guruku, responnya baik
tapi entah kenapa aku merasa tidak enak kepada beliau. Aku mencoba
mengerjakannya ke papan namun Cuma dapat seperempat dari pengerjaanku. Dan
akhirnya bel berbunyi “teett,,,, teett”. Itu bagaikan malaikat pelindung
bagiku. Akhirnya aku bisa terbebas dari semua itu, namun akhirnya aku masih saja
di suruh meneruskan soal itu sampai senin. Dan hal itu malah menjadi beban lagi
untukku.
Satu
hari dua hari tibalah di hari senin, upacara selesai aku melanjutkan
pelajaranku untuk beberapa mata pelajaran. Dan akhirnya tibalah pada pelajaran
itu. Tibalah waktuku “Al... sekarang giliranmu kan?” kata guruku. “iya bu”
jawabku. “Bu saya masih belum bisa menyelesaikannya” kataku. “Yasudah silahkan
kerjakan dulu” katanya. Aku mencoba lagi mencoba mengerjakannya. Namun tetap
saja aku terhenti di tengah-tengah. Dan akhirnya guruku menuntunku lagi,
sebenarnya sikapnya biasa saja. Namun pandangan kami semua beliau sedang kesal
pada kami semua. Yah sebenarnya ini hanya perasaan kami saja. Tapi tetap saja
kami merasa tidak enak kepada beliau.
Lama-lama
kemudian akhirnya aku berhasil mengerjakannya “Gimana Al? Perasaannya?” kata
salah seorang teman kepadaku. “ah biasa aja” kataku. “gak usah bohong deh aku
udah pernah merasakannya” kata temanku lagi. Aku terdiam tidak membalasnya
lagi. “Ayo lanjutkan gilirannya” kata guruku. “hahaha bakal ada korban lain”
kata temanku sambil tertawa. Dan tibalah jam akhir pelajaran. Suasana yang
awalnya sunyi tiba-tiba berubah semuanya. Bebas, bebas. Semuanya kegirangan.
Kelas yang Mencekam
Natiq H. Alim
19:35
![]() |
| Ilustrasi |
Aku berjalan di sebuah jalan sepi. Hari itu memang sangatlah sepi, tidak ada seorang pun yang lewat dijalan itu selain aku. Hanya sebuah senter kecil dan sebuah radio menemaniku berjalan. Memang terasa aneh, kenapa jalan itu sepi sekali? Padahal biasanya ramai “Sepi sekali malam ini, dingin pula”. Memang malam itu perasaanku merasakan dingin, suara pepohonan yang di hembus angin , dan suara burung hantu di sekitar pepohonan itu membuat aku tidak tenang. Ada saja pikiran negatif yang aku pikirkan.
“Krek... krek.. krek.. kuk..kuk...kukk..” suara bunyi pohon dan burung hantu. Tetap saja membuatku tidak tenang hati. Aku memang sengaja pulang dari rumah temanku menghadiri tahlilan dirumahnya. Memang saat acara selesai aku tidak langsung pulang, aku masih bermain-main di sana dengan teman-teman lainnya. Aku bermain bersama mereka hingga malam, dan tidak sadar waktu menunjukkan jam 1 malam. “Teman-teman, udah jam 1 nih, aku udah telat pulang, jadi aku harus pulang sekarang” kataku. “Mau kemana? Udah malam nih, awal lhoo... di pohon yang besar disana tuh” kata temanku menakut-nakuti. “Ah tidak mungkin” kataku.
Kemudian aku meneruskan pulang, teringat perkataan teman-temanku tadi, membuat hatiku menjadi kacau saja. Perasaan tidak enak, takut, muncul. Seketika aku melihat putih-putih di sampingku, dan aku lihat ternyata halusinasiku saja. Itu hanya sebuah bayangan cahaya lampu. Aku meneruskan perjalanan dan melihat sesuatu lagi di atas pohon yang teman-temanku bicarakan, karena saat itu memang gelap. Aku melihat sesuatu lagi yang seperti terbang di atas sana, aku sempat berteriak “Aaaa... apa itu?” aku mengarahkan senterku ke benda itu. Dan tentu saja hal itu terulang, hanya halusinasiku saja.
Aku meneruskan perjalananku sambil mendengarkan radio kecil, radio dari handphone-ku. Aku tidak menghiraukan yang lainnya. Aku juga sambil chatting dengan teman-temanku dengan niat agar tidak mengingatkanku pada hal itu lagi. Dan juga supaya bisa ada teman bicara juga. Ada beberapa teman yang aku ajak chatting dan ada satu teman yang salah satunya berada di tempat duka. Ketika di tengah percakapan. Dia mengulangi lagi perkataanya sambil tertawa “Awas lho.. hati-hati di pohon hahahaaa..... tuh sekarang ada dibelakangmu” kata temanku di pesannya. “Sialan lu... jangan nakut-nakutin gue bego’” kataku membalas. Temanku tertawa lagi.
Aku malah tambah kesal, dan menghentikan chat-ku. Dan tibalah di jalan sepi yang aku bicarakan sebelumnya. Langsung saja tiba-tiba ada angin yang sangat dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. Suara pohon bambu “krek.. krek. Krek...” semakin menambah takut saja. Aku bilang pada diriku sendiri “Halahh... palingan cuma halusinasiku lagi, aku udah dua kali tertipu”. Aku memberanikan diri berjalan terus, hingga tiba-tiba senterku mati.
“Loh..loh.. kenapa ini? Kenapa kok mati?” ini menambah detak jantungku makin cepat. Kemudian disebuah semak-semak ada sesuatu yang bergerak-gerak, awalnya aku tidak menghiraukan benda apa itu. Tapi semakin aku tidak menghiraukan manambah rasa penasaran diriku melihat benda itu. Aku terus melihatnya, hingga aku merasa benda itu semakin mendekat, mendekat, dan langsung sekejap di berada di depanku. “Aaaa..... Hantu... Tolong..” spontanitas aku memukul wajah hantu itu dan berlari. Sesosok putih ntahlah apa itu membuatku lari terbirit-birit.
Saat itu aku merasa bahwa kecepatan lariku semakin cepat dari biasanya, sesekali aku melihat kebelakang. Tetap saja makhluk itu mengikutiku. Dan akhirnya aku terjatuh, makhluk itu menghampiriku lagi. “Aaa.. ampun... pergi.. pergi”. Dan terdengar suara perempuan “nak-nak ada apa?”. Seketika makhluk dan jalanan gelap itu pun hilang. Aku melihat jam dan melihat dinding berwarna putih dengan poster mobil disana. Aku pun terkejut dan merasa senang ternyata semua kejadian itu hanya mimpi. “Oh Tuhan... Terima kasih..”.
Si Putih di Jalanan Sepi Malam
Natiq H. Alim
21:55
Natiq H. Alim
21:55

Ujian akhir, awalnya aku merasa itu
adalah hal yang menakutkan, bukan hanya karena untuk mengerjakan soal Ujian
kelulusan, tapi juga masa detik-detik kita semua, aku dan temanku dipisahkan. Masa
putih biruku pun juga akan segera berakhir. Selesai sudah semuanya. Cerita indah
tentang teman putih biruku, tapi tidak untuk diriku. Karena ini adalah awal
untukku memulai petualangan hidupku. Awal memasuki kelas X.
Seperti biasa semua menjadi terasa berat.
meskipun aku sudah pernah menghadapi ujian seperti ini, tapi tetap saja terasa
berat. Mungkin ini adalah puncak dari yang sebelumnya.
Aku harus mempelajari semuanya lagi
dari awal untuk menghadapi pertempuran yang menguras banyak tenaga juga
pikiran. Belum lagi banyaknya pilihan yang menanti setelah ujian. “Hahhh,
rasanya ingin berhenti, aku harus mempelajari semuanya dari awal lagi? Oh... “.
Inilah hidup. Tidak akan berarti tanpa sebuah ujian. Perjuangan demi perjuangan
mulai aku lakukan, setiap pagi melangkah ke sekolah hingga pulang sekolah di
sore hari, hanya rasa lelah juga gelisah yang mendampingiku. Bahkan untuk makan
dan tidur pun tak tenang.
Perasaan takut akan sebuah kegagalan
selalu menghantui diriku. Hanya malam yang sunyi yang bisa menenangkan jiwaku
disaat aku menghadap yang maha segalanya. Dan memang benar, kita tak perlu
takut jika kita terus mendekat pada-Nya disela-sela kesibukan kita dengan ujian
tersebut. Disela-sela kesibukanku, aku juga harus memikirkan masa depanku.
Tujuanku jika ujian ini berhasil, dan tentunya harus berhasil. “Ya Allah...
Mudahkanlah aku dalam menghadapi Ujian Kelulusan ini ya Allah, Berikanlah
kelancaran dan kemudahan dalam mengerjakan Soal-soal Ujian ya Allah” Itulah do’a
yang selalu aku baca setiap selesai sholat.
Hanya perlu yakin pada diri sendiri
dan juga tak lupa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mulai dari instansi
pendidikan, pekerjaan datang menghampiri. Saat aku mulai yakin pada satu
tujuan, tujuan lain datang. Impianku ingin jadi pebisnis, akan tetapi bisnis
apa? Apa yang saya kuasai? Rasanya tidak mungkin. Kemudian muncul keinginan
lain, saat itu aku sangat suka sekali pada dunia IT, aku ingin memiliki kerja
dalam hal yang berhubungan dengan IT. Dan saat itu pula aku bingung menentukan
SMA mana yang harus aku pilih untuk melanjutkan studiku.
“Aku ingin menjadi Developer Game,
SMK bisa tapi di Sebenarnya tanpa di SMK pun bisa”. Aku meminta pendapat ke
orang tuaku kemana aku harus melanjutkan sekolah?. Beliau mengatakan terserah
kepadaku, aku malah tambah bingung, tapi diakhir beliau menyarankan bahwa tanpa
di SMK pun aku bisa melanjutkan impianku. Aku bertanya pada saudaraku, dan
jawaban yang sama pun mereka berikan kepadaku. Dan akhinya aku sudah menentukan
Sekolah mana yang akan aku pilih.
Detik-detik menjelang ujian. Aku tak
tau kenapa jantung ini berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Pengen rasanya aku
berteriak, tapi aku tak mampu. Keringat dingin juga keluar dari badanku. Aku
drop out, hampir tak sanggup mengerjakan soal-soal itu. Tapi keluarga juga
mimpiku menguatkan aku.
Aku terus berdoa sambil mengerjakan
soal-soal itu. Berharap tidak ambruk saat mengerjakan soal-soal ini hingga hari
terakhir. Tiga hari berlalu. Haahhh, lega rasanya. Eitss, tunggu dulu! Masih
ada ketegangan yang sepuluh kali lebih besar dari ini. Hari demi hari aku
menunggu. Akhirnya hari H pun tiba. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tetap
tak bisa. Hatiku bergemuruh, ‘jantungku mau copot!’ teriakku dalam hati.
“kamu kenapa,? Lebih baik kita ke
mushola aja yuk, pasti bias lebih tenang.” Seseorang telah mengulurkan
tangannya untuk diriku.
Aku tersenyum dan menyambut uluran
tangan tersebut. Dan benar, saat aku berdiri di depan pintu hatiku merasa kesejukan.
Badai yang menerpa hatiku mulai meredam. Kini hatiku merasa sejuk, seakan embun
pagi membasahi hatiku. Aku terus berdoa, aku ingin yang terbaik untukku,
keluargaku, sahabatku juga semuanya. Ingin rasanya aku menumpahkan isi hatiku,
tapi aku masih belum sanggup. Hanya sedikit yang keluar, sedikit membuat hatiku
merasa nyaman.
Hari penentuan kelulusan pun tiba. Semua
siswa yang lulus tertulis di daftar kelulusan di Mading sekolah. Rasanya sangat
deg-degan sekali untuk melihatnya. Aku tidak melihatnya karena banyak sekali
siswa yang berkumpul di depan daftar kelulusan. Hingga aku mendengar kata “kamu
LULUS…” mendengar teriakan tersebut sepontan aku langsung terduduk dan bersujud
syukur. “Terimakasih ya Allah kau mengabulkan do’aku”.
Hal Menakutkan di Akhir Ajaran Sekolah
Natiq H. Alim
20:47
Natiq H. Alim
20:47

