Welcome to Analog

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Hic laboriosam ipsa sequi? Laudantium aspernatur iusto blanditiis, totam perferendis dicta magni.

About Us

WE ARE CREATIVE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In maximus ligula semper metus pellentesque mattis. Maecenas volutpat, diam enim sagittis quam, id porta Lorem ipsum dolor sit .Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In maximus ligula semper metus pellentesque mattis. Maecenas volutpat.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur amet, consectetur adipiscing elit. In maximus ligula semper metus pellentesque mattis. Maecenas volutpat.

Services

What We Do?

WEB DESIGN

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Nulla ducimus aliquam asperiores modi. Labore, quisquam.

GRAPHSIC DESIGN

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Nulla ducimus aliquam asperiores modi. Labore, quisquam.

PHOTOGRAPHY

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Nulla ducimus aliquam asperiores modi. Labore, quisquam.

CLEAN CODE

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Nulla ducimus aliquam asperiores modi. Labore, quisquam.

PROGRESS AND ACCORDIANS

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Nulla ducimus aliquam asperiores modi. Labore, quisquam.

24/7 Support

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Nulla ducimus aliquam asperiores modi. Labore, quisquam.

1254

HAPPY CLIENTS

1424

COMPLETE PROJECT

2136

CUP OF COFFIE

15

AWARDS

TEAM

MEET OUR AWESOME TEAM

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In maximus ligula semper metus pellentesque mattis. Maecenas volutpat, diam enim sagittis quam, id porta Lorem ipsum dolor sit .Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In maximus ligula semper metus pellentesque mattis. Maecenas volutpat.

Photography 95%
Videography 85%
WEB DESIGN 75%
Illustrator 60%
image
John Doe
Manager Developer
image
John Doe
Manager Developer
image
John Doe
UI/ UX Designer
image
John Doe
php Developer
Prices

Choose the perfect Plan

19$

per month
  • 10GB Storage
  • 10 Emails
  • 10 Domains
  • 1GB Bandwidth
  • 50 SubDomains
  • Email Support

49$

per month
  • 10GB Storage
  • 10 Emails
  • 10 Domains
  • 1GB Bandwidth
  • 50 SubDomains
  • Email Support

99$

per month
  • 10GB Storage
  • 10 Emails
  • 10 Domains
  • 1GB Bandwidth
  • 50 SubDomains
  • Email Support
img

Jon Doe

CEO, Meghna Group

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Rem recusandae est, expedita! Libero unde optio ratione expedita. Maxime iste, quasi.

img

Jon Doe

CEO, Meghna Group

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Rem recusandae est, expedita! Libero unde optio ratione expedita. Maxime iste, quasi.

img

Jon Doe

CEO, Meghna Group

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Rem recusandae est, expedita! Libero unde optio ratione expedita. Maxime iste, quasi.

Blog

LATEST FORM Blog

Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Piala Ini Untuk Ibu


Sedikit tergesa-gesa, Risky berlari melintasi halaman rumahnya. Dengan wajah terlihat gembira, sesekali anak kelas 1 SMP itu memandangi piala yang digenggamnya. Sepertinya ia sudah tidak sabar lagi menunjukkan piala itu pada ibunya dan membuktikan hobi sepakbola yang ia banggakan bisa membuahkan prestasi.

“Ibuu…Risky pulaang ,” ucap Risky setengah berteriak sambil membuka daun pintu.

Risky tertegun, disudut ruang tamu banyak sekali tetangga yang duduk bersimpuh mengerumuni ibunya. Risky mencoba melangkah mendekat. Sejurus kemudian Risky melihat ibunya menangis sambil menyebut-nyebut namanya.

“Ibuu..ibu kenapa, ini Risky bu.. ini piala yang Risky janjikan kemarin, Risky berhasil jadi juara satu buu..,” teriak Risky mulai dilanda kekhawatiran. Namun rupanya tak seorangpun mendengar teriakannya, termasuk ibunya yang suara tangisannya semakin keras.

Belum terjawab keheranan Risky tentang apa yang terjadi, tiba-tiba ia mendengar suara sirine mobil ambulans yang sepertinya berhenti tepat di halaman rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuk beberapa orang memakai seragam putih-putih dengan menandu seseorang, lalu mereka membaringkan tubuh seseorang itu di meja ruang tamu. Seketika suasana rumah menjadi gaduh. Jeritan ibunya semakin menjadi-jadi diiringi isak tangis orang-orang disekitarnya.

Risky…Risky anakkuuu…,” teriak ibu Risky sambil mendekap tubuh seseorang itu. Dipenuhi rasa penasaran, Risky kembali mendekati ibunya. Alangkah terkejutnya ia melihat tubuh yang terbaring di meja itu yang tak lain adalah tubuhnya.

“Ibuu..apa yang terjadi denganku..,” gumam Risky dalam hati.

Belum habis rasa terkejutnya, Risky mendengar orang yang berseragam putih disamping ibunya mulai berkata kata.

”Bu..kami sudah berusaha, tapi penggumpalan darah di otak anak ibu sangat parah, maafkan kami. Anak ibu sudah pergi ,” ucapnya lirih.

Risky mulai tahu apa yang terjadi. Ingatannya melayang pada peristiwa beberapa jam yang lalu di lapangan bola. Saat ini tim Risky unggul 1 – 0 saat bertanding melawan tim SMP 45. Dimenit-menit akhir terjadi tendangan bebas didekat mistar gawang yang menguntungkan pihak lawan. Risky yang berperan sebagai salah satu pagar betis berusaha membentengi gawang supaya tidak terjadi gol. Ia sempat melihat bola melayang sebelum akhirnya membentur bagian belakang kepalanya ketika ia melompat sambil membalikkan badan. Setelah itu, ia tidak ingat lagi apa yang terjadi kemudian.

“Jadi..jadi Risky sudah meninggal buu..,” Risky terisak sambil berusaha meraih bahu ibunya. Tapi rupanya sang ibu tak bisa merasakan sentuhan tangan Risky.
Risky mulai meneteskan airmata. Takut, sedih, cemas semua bercampur jadi satu. Sebelum tahu apa yang harus ia lakukan, entah darimana datangnya tiba-tiba ada sesosok bayangan putih menghampirinya.

“Ayahh…,” gumam Risky lirih.
“Risky..sudah waktunya Risky ikut ke rumah ayah yang baru..,” ucap bayangan putih itu.
“Tapi ibu…,” jawab Risky sambil menoleh ibunya yang masih tetap menangis.
“Jika tiba waktunya nanti, ibu pasti menyusul ke rumah kita yang baru naak, “ kata bayangan putih itu seperti tahu perasaan Risky yang enggan berpisah dengan ibunya.


Sekejab kemudian, Risky perlahan menghilang bersama sosok bayangan itu. Entah kemana..hanya mereka yang tahu.

Perpisahanku dengan Ibuku

Saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara saat itu saya masih kelas dua sekolah dasar sedangkan kakakku kelas satu SMP, ayahku  merantau ke negeri seberang dan ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ayahku merantau sejak aku masih berumur satu tahun jadi saya masih tidak mengenal sifat ayahku jika wajahnya saya bisa melihat lewat foto yang terpampang di dinding rumahku, saya sangat rindu ayahku .

Hari hari saya lewati bersama seorang ibu yang sangat pekerja keras dan penyayang kepada anak-anaknya, suatu ketika pada pagi yang diwarnai hujan yang deras serta petir yang menggelegar tiba-tiba ibu bertanya padaku.

 “dek!kamu pengen rumah yang besar enggak?”

Dengan polosnya aku menjawab

 “iya buk, aku pengen banget!! Kayak di TV itu ada kolam renangnya!”

 jawabanku tadi membuat ibuku tersenyum lalu menghampiriku dan memelukku sambil berkata  “kalau pengen rumah yang besar ibu gak bisa kerja disini ibu harus pergi keluar negri”

“Keluar negeri itu dimana bu?”
 “keluar negeri itu sangat jauh disana itu banyak uangnya!”

Tiba-tiba petir menggelegar dan mengejutkan aku dan ibuku seketika aku memelukku ibu erat-erat  dan aku bertanya

“siapa nanti yang menjaga aku ketika sepeti ini?”
 “tiba-tiba ibu melepas pelukanku dan pergi ke kamar sepertinya ibuku sedang menangis

Setelah pembicaraan itu hari-hari terasa jauh berbeda kakakku sering menangis dan aku tak tau penyebabnya, ibu tidak bekerja seperti biasanya dan menghabiskan waktu bersamaku

Suatu malam saat aku bersama ibuku aku bertanya ibu

“ibu kapan yang mau ke luar negeri?”
“seminggu lagi dek!”jawab ibu dengan mata yang berkaca-kaca
“apaaaa?? Ibu jangan tinggalin aku kalau ibu pergi siapa yang akan melindungiku? Siapa yang akan menghiburku ketika aku sedang menangis?”tanyaku sambil menangis
“ada pengganti ibu dek! Dia yang menjaga kamu da merawatmu!” ujar ibu
“tapi tidak ada yang bisa mengganti sosok ibu di hatiku!”

Perbincangan itu berlanjut hingga larut malam tak tersa akupun tertidur dipangkuan ibu
Seminggu itu terasa sangat sebentar
Hari terakhir bersama ibu sudah berada di depan mata
Aku bertanya pada ibu “ibu janji ya akan sering menelponku”

“ya ibu janji akan sering menelponmu dan kakakmu”

Sangat berat untuk melepas ibu tapi apa daya kebutuhanku dan kakakku semakin banyak dan pemasukan minim sekali, aku mengerti keadaan keluargaku

Dengan berat hati aku melepas ibuku dari pelukanku air matapun sudah tak terbendung lagi akupun menangisi kepergian ibuku

Sebelum ibu naik bis ibu berkata padaku “jadilah anak yang pintar nak, buktikan kalau kamu bisa berprestasi tanpa bimbingan ibu jangan seperti ibu yang hanya bisa sekolah sampai SD”

Itulah kata terakhir yang diucapkan ibu untukku, setelah bis yang dinaiki ibu sudah berangkat aku tetap mengingat kata-kata ibu aku berjanji akan membuktikan kepada ibu dan semua orang kalau aku bisa berprestasi tanpa ibu
Akupun belajar dengan sungguh-sungguh semua ini aku lakukan demi ibuku
Dan ternyata impianku dan ibuku terkabul aku sekarang bisa menjadi anak yang mampu berprestasi tanpa ibuku
Akhirnya kalimat itu sudah menjadi fakta bagi saya dan bagi semua orang



Kejujuran Akan Mendatangkan Kebahagiaan

Di ufuk timur, matahari belum tampak. Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah jalan yang masih lengang. Masih pagi sekali, dia harus mengayuh sepedanya. Siapakah gerangan anak itu? Untuk apa dia melakukannya? Apakah yang sebenarnya ia lakukan? Dan untuk apa? . Ia adalah seorang penjual Koran, yang bernama Doni. Kesehariannya ia habiskan untuk menjual koran di jalanan. Tak ada kenal lelah ia lakukan demi membantu orang tuanya.

Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai di tempat agen koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Doni?” tanya Bang Karno. “Biasa saja.”jawab Doni. Bang Karno mengambil sejumlah koran dan majalah yang biasa dibawa Doni untuk langganannya. Setelah selesai, ia pun berangkat.

Ia mendatangi pelanggan-pelanggan setianya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Doni setiap harinya. Menyampaikan koran kepada para pelanggannya. Semua itu dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab.

Ketika Doni sedang mengacu sepedanya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Doni jadi gemetaran. Benda apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa ketakutan karena akhir-akhir ini sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Doni khawatir benda itu adalah bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba membuka bungkusan tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kardus. “Wah, apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Doni segera membuka bungkusan dengan hati-hati.

Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat kalung emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati. “Milik siapa, ya?” Doni membolak-balik cincin dan kalung yang ada di dalam kardus. Ia makin terperanjat lagi karena ada kartu kredit di dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak Alif. Kasihan sekali Pak Alif , rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.


Apa yang diperkirakan Doni itu memamg benar. Rumah Pak Alif telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri tersebut terburu-buru, bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya terjatuh. Doni dengan segera memberitahukan Pak Alif. Ia menceritakan apa yang terjadi dan ia temukan. Betapa senangnya Pak Alif karena perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia sangat bersyukur, perhiasan itu jatuh ke tangan orang yang jujur. Sebagai ucapan terima kasihnya, Pak Alif memberikan modal kepada Doni untuk membuka kios di rumahnya. Kini Doni tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk menjajakan koran. Ia cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan untuk mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Doni digantikan oleh saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari sebuah kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.

Mandi Lumpur

Saya adalah seorang anak tunggal, sejak  kecil saya memang malas berolahraga, keluar rumah, bahkan saya selalu bangun kesiangan, karna sifat saya, saya sering diperingati dan ditegur oleh orang tua saya”jangan biasaka kebiasaan itu nak”ujar orang tua saya”,tetapi tetap tdak berubah, kemudian saya dibimbing agr meninggalkan kebiasaan tidak baik saya.

Lama kelamaan sayabisa dan tahu bahwa kebiasaan tersebut kurang baik bagi kehidupan saya, saya semakin berusaha untuk lebih baik lagi dan meninggalkan kebiasaan – kebiasaan tersebut, bahkan orang tua saya juga tambah mendukung usaha saya.

Orang tua saya mendukung saya dengan cara mengajak saya keluar rumah setiap hari di pagi hari “nak bagaimana kalau setiap pagi kita olahraga”kata ibu saya”,”okelah bu, tapi kemana?”ujar sya sambil bertanya (pada saat itu saya masih balita dan belum bersekolah).

Dulu tetangga saya masih sedikit bahkan jarang sekali ada rumah di dekat rumah saya, hanya ada rumah yang belum selesai tetapi sudah ditempati, itu saja masih ada dua rumah, yaitu, didepan rumah saya dan disamping rumah saya. Jadi jika saya keluar rumah maka saya sulit mendapat teman”teman gak ada gimana mau keluar rumah bu?”Tanya saya pada ibu.

Dan pada suatu pagi saya diberi saran olehbapak dan ibu agar mengunjungi teman saya agar saya tidak kesepian”ayo nak kalau mau ikut ke rumah temanmu” ujar bapak dan ibu”ayo ke rumahnya Surya anaknya bude ratmi itukan?”ujar saya sambil bertanya.

Sebenarnya tempatnya tidak terlalu jauh, tetapi saya harus jalan kaki dan jalurnyapun lewat di pinggir persawahan, perjalanannya seru bahkan pemandangan sawahnya indah”bu sawah ini siapa yang buat ya?,apa yang buat itu kebau?,masak sih kerbau bisa membuat sawah?”taya saya pada ibu sambil melihat sawah dan kerbau.

Mungkin karna ibu malas menjawabnya maka bapakkupun yang menjawabnya”sawah itu dibuat oleh petani, kerbau tdak bisa membuat sawah, kerbau hanya bertugas membantu petani membajak sawah, dan petanilah yang mengelola sawah”, ujar bapak.

“Tapi bagaimana cara petani mengeloa sawah?”Tanya saya pada bapak, “petani mengelola sawah dengan cara menanami sawah dengan tanaman seperti padi, jagung, tela, kacang dll, setelah petani menanami tanaman tersebut, petani harus menjaga tanaman tanaman tersebut sari serangan hama seperti belalang, ulat bulu, tikus dan burung burung, keudian ketika sudah waktunya petanipun memanennya”kata bapak sambil menjelaskan denan serius.

Setelah lama kelamaan berjalan, saya merasa capek dan menginginkan istirahat”capek banget, dari tadi jalan terus”ujar saya sambil mengeluh, sayapun terus mengeluh . kemudian Bapak saya menawarkan untuk menggendong saya”ayolah ikut bapak, gitu aja kok capek”ujar bapak, tanpa pikir panjang, sayapun menerima ajakannya”ayolah” ujar saya.

Senang rasanya digendong olehnya. Rasa capek hilang perjalanpun riang. Rupanya rasa senang tak bertahan lama, entah gara gara bapak capek atau mungkin salah pijak tanah kamipun terperosok jatuh ke sawah.

Saya dan bapak saya ditertawakan oleh ibu”emangnya enak mandi lumpu hahaha..”cakap ibu sambil tertawa, saya hanya tersenym melihat ibu tertawa, untung saja kita jatuh di dekat tujuan jadi bisa minta baju ganti deh ke temen saya”hey surya punya baju ganti gak yang cukup buatku”kataku sambil mengeluh, “tentu ada dong, buat kamu kan”kata surya sambil tersenyu menahan tertawa.


“Hey nak kenapa lumupur semua”ujar bude, “iya nih tadi saya mandi lumpur” katasaya, udah mandi sana”kata bude,”iya bude” kata saya. Setelah mandi saya ganti baju yang bukan punya saya melainkan punya teman saya. Bajunya sampai sekarang masih aku simpan, tapi sudah tidak muat.

Niat yang Baik Tak Selamanya Baik

Malam itu, terdengarlah suatu tangisan seorang Istri karena merasa bersalahnya ia kepada sang suami. Sepuluh tahun sudah ia hidup bersama dengan suaminya namun mereka tak juga dikaruniai seorang anak. Sang istri berkata kepada suamiya ”mas, maafkan aku, aku tidak bisa menjadi seorang istri yang baik dan bisa membahagiakanmu, aku sudah gagal mas. Aku rela apabila mas mau mencari wanita lain untuk mas nikahi” menarik nafas sang suami menanggapi perkataan istrinya “untuk apa kamu bilang seperti itu? Aku tidak pernah merasa kecewa ataupun marah ketika kita sudah bertahun-tahun bersama akan tetapi hasil cinta kita belum berbuah, mungkin memang ini yang terbaik buat kita, TUHAN belum mengakaruniai kita anak karna tuhan tau mungkin kita belum sanggup untuk menjaga dan merawat ciptaannya”. Sang istri hanya bisa diam mendengar tanggapan sang suaminya.

Setiap hari tak ada yang direnungkan sang istri, hanya rasa bersalahnyalah yang selalu ada dibenaknya sehingga ia mempunyai niat untuk menghindar dan menjauh dari suaminya dengan maksud agar suaminya resah dan jenuh sehingga ada keinginan untuk menikah lagi, akan tetapi karena kuatnya cinta sang suami sikap dan niat istrinyapun ia abaikan.

Sehingga pada suatu pagi ketika mereka hendak sarapan, sang istri berkata lagi pada sang suami ”mas, aku sadar mas tidak akan bahagia dengan pernikahan kita tanpa adanya buah hasil dari cinta kita, aku mau mas sekarang menikah lagi supaya mas bisa mempunyai seorang anak, aku rela mas meskipun anak itu terlahir dari perempuan lain aku terima”. Sekarang sang suami tidak bisa menyanggah ataupun menanggapi dari keinginan sang istri yang sangat kuat itu. ”pergilah mas, cari wanita yang bisa mas nikahi dan bisa memberikan mas anak” lagi-lagi sang istri berkata.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan sang suami, karena cintanya yang sangat besar kepada istrinya dan tidak mau istrinya terus-terusan menangis maka ia akan memenuhi dan mengabulkan permintaan sang istri.

Pada suatu ketika akhirnya sang suami menemukan perempuan yang bernama Ratna dan iapun mau menjadi istrinya serta mau menyerahkan bayinya kepada suaminya bersama istri yang sudah diketahui sebelumnya. Mereka tinggal dalam satu rumah, sang istri sangat akrab dengan Ratna apalagi ia sudah tau bahwa Ratna sekarang sudah mengandung anak dari suaminya.

Sang istri rela melakukan dan mengabulkan setiap apa yang dinginkan oleh Ratna demi keselamatan dan kesehatan janin yang ada pada kandungan Ratna. Sang suami hanya bisa melihat apa yang dilakukan istrinya kepada istri keduanya itu.

Sembilan bulan sudah Ratna hamil dan akhirnya ia melahirkan di salah satu rumah sakit yang terletak di kawasan tempat mereka tinggal. Betapa bahagianya sang suami dan istrinya melihat bayi yang dilahirkan Ratna akan segera memanggilnya papa dan mama.tidak lama kemudian persalinanpun selesai dan mereka pulang bersama-sama, entah kenapa di pikiran Ratna terbesit sesuatu yang bertentangan dari perjanjian yang ia buat bersama keluarga suaminya itu.

Hingga pada waktunya tiba istri dari suaminya itu ingin meminta dan menggendong anak Ratna dengan suaminya itu. Tiba-tiba Ratna menepis ”tidak,, aku tidak akan menyerahkan bayi ini kepada kalian ”tapi kenapa Ratna? kamu sudah janji mau memberikan bayi itu kepada kami” kata sang suami. ”iya itu dulu, sekarang tidak lagi. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, aku yang melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawaku, dan sekarang dengan mudahnya kalian mau merebut anak ini dariku? lebih baik aku pergi dari sini sekarang, dan kalian jangan macam-macam untuk mengambil bayi ini dariku”. Ratna? Ratna? Tunggu Ratna, sang suami mencoba menahannya supaya tidak pergi namun sia-sia.

Sang istri hanya bisa menangis, menangis dan menangis. ”sudahlah,, jangan menangis lagi, memang kita sudah di takdirkan hidup bersama tanpa adanya seorang putera” sang suami mencoba menghibur istrinya. “maafkan aku mas, aku kira dengan kita memiliki anak meskipun dari perempuan lain kita akan bahagia, ternyata aku salah mas, maafkan aku”


Kelas yang Mencekam

Sabtu siang disaat aku masih dalam pelajaran sekolah, saat itu suasana kelas bagaikan rumah kosong, sunyi, mencekam, aura kelas itu bagaikan aura hitam yang sangat menyeramkan. Ini bukannya aku membesar-besarkan hal yang biasa, namun inilah yang aku rasakan bersama teman-temanku di kelas. Hari jam 2 siang guruku datang dengan sikap biasa awalnya, namun berubah ketika ada sesuatu yang membuatnya jengkel. ialah ketidaktahuan siswanya untuk mengerjakan tugas yang di berikan olehnya.
Hari itu adalah mungkin bisa dibilang hari sial namun bisa juga menjadi sebuah pembelajaran bagi aku dan teman-temanku. Kami diberikan tugas untuk menjawab soal dan mengerjakannya  satu persatu dari kami ke depan kelas. Tibalah waktunya satu persatu dari temanku maju ke papan untuk mengerjakannya. Satu anak, dua anak, berhasil mengerjakannya. Kemudian tibalah soal ke-3. Salah seorang temanku laki-laki gilirannya untuk mengerjakannya.


“Dur... giliranmu, silahkan kerjakan di papan” kata guruku. Temanku masih belum maju, dia masih berusaha mengerjakannya di mejanya. “iya sebentar bu” katanya. Beberapa menit kemudian, temanku memberanikan diri untuk maju ke depan. Setengah pengerjaannya telah ia tuliskan di papan. Dan akhirnya dia terhenti di tengah-tengah pengerjaannya. Sambil membuka buku, ia coba mengerjakannya kembali, namun tetap saja dia tidak bisa melanjutkannya. “Gimana dur?” kata guruku. “............” temanku hanya terdiam. Akhirnya guruku menanyakan kepada kami semua “kan sudah kalian pelajari, kenapa kalian masih saja tidak bisa? Seharusnya kalian gak lulus dari kelas 1” kata guruku dengan nada kesal. Kami semua hanya bisa terdiam.

Setelah beberapa lama guru menampakkan kekesalannya, sambil menuntun temanku mengerjakannya. Setelah hampir setengah jam ditambah kesalnya guruku akhirnya temanku berhasil. Kini saat giliran anak lainnya untuk melanjutkan soal berikutnya. Anak ke empat maju, kemudian kelima, enam, dan akhirnya tujuh. Awalnya yang ketujuh ini sempat kebingungan namun bisa menyelesaikannya. Hingga tiba giliranku untuk mengerjakannya. Dari jam awal aku berusaha mengerjakannya sampai aku menanyakan ke beberapa temanku, tapi tetap saja aku tidak bisa mengerjakannya.

Hingga tiba akhirnya aku hampir putus asa aku bertanya kepada guruku, responnya baik tapi entah kenapa aku merasa tidak enak kepada beliau. Aku mencoba mengerjakannya ke papan namun Cuma dapat seperempat dari pengerjaanku. Dan akhirnya bel berbunyi “teett,,,, teett”. Itu bagaikan malaikat pelindung bagiku. Akhirnya aku bisa terbebas dari semua itu, namun akhirnya aku masih saja di suruh meneruskan soal itu sampai senin. Dan hal itu malah menjadi beban lagi untukku.

Satu hari dua hari tibalah di hari senin, upacara selesai aku melanjutkan pelajaranku untuk beberapa mata pelajaran. Dan akhirnya tibalah pada pelajaran itu. Tibalah waktuku “Al... sekarang giliranmu kan?” kata guruku. “iya bu” jawabku. “Bu saya masih belum bisa menyelesaikannya” kataku. “Yasudah silahkan kerjakan dulu” katanya. Aku mencoba lagi mencoba mengerjakannya. Namun tetap saja aku terhenti di tengah-tengah. Dan akhirnya guruku menuntunku lagi, sebenarnya sikapnya biasa saja. Namun pandangan kami semua beliau sedang kesal pada kami semua. Yah sebenarnya ini hanya perasaan kami saja. Tapi tetap saja kami merasa tidak enak kepada beliau.

Lama-lama kemudian akhirnya aku berhasil mengerjakannya “Gimana Al? Perasaannya?” kata salah seorang teman kepadaku. “ah biasa aja” kataku. “gak usah bohong deh aku udah pernah merasakannya” kata temanku lagi. Aku terdiam tidak membalasnya lagi. “Ayo lanjutkan gilirannya” kata guruku. “hahaha bakal ada korban lain” kata temanku sambil tertawa. Dan tibalah jam akhir pelajaran. Suasana yang awalnya sunyi tiba-tiba berubah semuanya. Bebas, bebas. Semuanya kegirangan.

Si Putih di Jalanan Sepi Malam

Ilustrasi

Aku berjalan di sebuah jalan sepi. Hari itu memang sangatlah sepi, tidak ada seorang pun yang lewat dijalan itu selain aku. Hanya sebuah senter kecil dan sebuah radio menemaniku berjalan. Memang terasa aneh, kenapa jalan itu sepi sekali? Padahal biasanya ramai “Sepi sekali malam ini, dingin pula”. Memang malam itu perasaanku merasakan dingin, suara pepohonan yang di hembus angin , dan suara burung hantu di sekitar pepohonan itu membuat aku tidak tenang. Ada saja pikiran negatif yang aku pikirkan.

“Krek... krek.. krek.. kuk..kuk...kukk..” suara bunyi pohon dan burung hantu. Tetap saja membuatku tidak tenang hati. Aku memang sengaja pulang dari rumah temanku menghadiri tahlilan dirumahnya. Memang saat acara selesai aku tidak langsung pulang, aku masih bermain-main di sana dengan teman-teman lainnya. Aku bermain bersama mereka hingga malam, dan tidak sadar waktu menunjukkan jam 1 malam. “Teman-teman, udah jam 1 nih, aku udah telat pulang, jadi aku harus pulang sekarang” kataku. “Mau kemana? Udah malam nih, awal lhoo... di pohon yang besar disana tuh” kata temanku menakut-nakuti. “Ah tidak mungkin” kataku.

Kemudian aku meneruskan pulang, teringat perkataan teman-temanku tadi, membuat hatiku menjadi kacau saja. Perasaan tidak enak, takut, muncul. Seketika aku melihat putih-putih di sampingku, dan aku lihat ternyata halusinasiku saja. Itu hanya sebuah bayangan cahaya lampu. Aku meneruskan perjalanan dan melihat sesuatu lagi di atas pohon yang teman-temanku bicarakan, karena saat itu memang gelap. Aku melihat sesuatu lagi yang seperti terbang di atas sana, aku sempat berteriak “Aaaa... apa itu?” aku mengarahkan senterku ke benda itu. Dan tentu saja hal itu terulang, hanya halusinasiku saja.

Aku meneruskan perjalananku sambil mendengarkan radio kecil, radio dari handphone-ku. Aku tidak menghiraukan yang lainnya. Aku juga sambil chatting dengan teman-temanku dengan niat agar tidak mengingatkanku pada hal itu lagi. Dan juga supaya bisa ada teman bicara juga. Ada beberapa teman yang aku ajak chatting dan ada satu teman yang salah satunya berada di tempat duka. Ketika di tengah percakapan. Dia mengulangi lagi perkataanya sambil tertawa “Awas lho.. hati-hati di pohon hahahaaa..... tuh sekarang ada dibelakangmu” kata temanku di pesannya. “Sialan lu... jangan nakut-nakutin gue bego’” kataku membalas. Temanku tertawa lagi. 

Aku malah tambah kesal, dan menghentikan chat-ku. Dan tibalah di jalan sepi yang aku bicarakan sebelumnya. Langsung saja tiba-tiba ada angin yang sangat dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. Suara pohon bambu “krek.. krek. Krek...” semakin menambah takut saja. Aku bilang pada diriku sendiri “Halahh... palingan cuma halusinasiku lagi, aku udah dua kali tertipu”. Aku memberanikan diri berjalan terus, hingga tiba-tiba senterku mati. 

“Loh..loh.. kenapa ini? Kenapa kok mati?” ini menambah detak jantungku makin cepat. Kemudian disebuah semak-semak ada sesuatu yang bergerak-gerak, awalnya aku tidak menghiraukan benda apa itu. Tapi semakin aku tidak menghiraukan manambah rasa penasaran diriku melihat benda itu. Aku terus melihatnya, hingga aku merasa benda itu semakin mendekat, mendekat, dan langsung sekejap di berada di depanku. “Aaaa..... Hantu... Tolong..” spontanitas aku memukul wajah hantu itu dan berlari. Sesosok putih ntahlah apa itu membuatku lari terbirit-birit. 

Saat itu aku merasa bahwa kecepatan lariku semakin cepat dari biasanya, sesekali aku melihat kebelakang. Tetap saja makhluk itu mengikutiku. Dan akhirnya aku terjatuh, makhluk itu menghampiriku lagi. “Aaa.. ampun... pergi.. pergi”. Dan terdengar suara perempuan “nak-nak ada apa?”. Seketika makhluk dan jalanan gelap itu pun hilang. Aku melihat jam dan melihat dinding berwarna putih dengan poster mobil disana. Aku pun terkejut dan merasa senang ternyata semua kejadian itu hanya mimpi. “Oh Tuhan... Terima kasih..”.

Hal Menakutkan di Akhir Ajaran Sekolah


Ujian akhir, awalnya aku merasa itu adalah hal yang menakutkan, bukan hanya karena untuk mengerjakan soal Ujian kelulusan, tapi juga masa detik-detik kita semua, aku dan temanku dipisahkan. Masa putih biruku pun juga akan segera berakhir. Selesai sudah semuanya. Cerita indah tentang teman putih biruku, tapi tidak untuk diriku. Karena ini adalah awal untukku memulai petualangan hidupku. Awal memasuki kelas X.

Seperti biasa semua menjadi terasa berat. meskipun aku sudah pernah menghadapi ujian seperti ini, tapi tetap saja terasa berat. Mungkin ini adalah puncak dari yang sebelumnya.

Aku harus mempelajari semuanya lagi dari awal untuk menghadapi pertempuran yang menguras banyak tenaga juga pikiran. Belum lagi banyaknya pilihan yang menanti setelah ujian. “Hahhh, rasanya ingin berhenti, aku harus mempelajari semuanya dari awal lagi? Oh... “. Inilah hidup. Tidak akan berarti tanpa sebuah ujian. Perjuangan demi perjuangan mulai aku lakukan, setiap pagi melangkah ke sekolah hingga pulang sekolah di sore hari, hanya rasa lelah juga gelisah yang mendampingiku. Bahkan untuk makan dan tidur pun tak tenang.

Perasaan takut akan sebuah kegagalan selalu menghantui diriku. Hanya malam yang sunyi yang bisa menenangkan jiwaku disaat aku menghadap yang maha segalanya. Dan memang benar, kita tak perlu takut jika kita terus mendekat pada-Nya disela-sela kesibukan kita dengan ujian tersebut. Disela-sela kesibukanku, aku juga harus memikirkan masa depanku. Tujuanku jika ujian ini berhasil, dan tentunya harus berhasil. “Ya Allah... Mudahkanlah aku dalam menghadapi Ujian Kelulusan ini ya Allah, Berikanlah kelancaran dan kemudahan dalam mengerjakan Soal-soal Ujian ya Allah” Itulah do’a yang selalu aku baca setiap selesai sholat.

Hanya perlu yakin pada diri sendiri dan juga tak lupa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mulai dari instansi pendidikan, pekerjaan datang menghampiri. Saat aku mulai yakin pada satu tujuan, tujuan lain datang. Impianku ingin jadi pebisnis, akan tetapi bisnis apa? Apa yang saya kuasai? Rasanya tidak mungkin. Kemudian muncul keinginan lain, saat itu aku sangat suka sekali pada dunia IT, aku ingin memiliki kerja dalam hal yang berhubungan dengan IT. Dan saat itu pula aku bingung menentukan SMA mana yang harus aku pilih untuk melanjutkan studiku.

“Aku ingin menjadi Developer Game, SMK bisa tapi di Sebenarnya tanpa di SMK pun bisa”. Aku meminta pendapat ke orang tuaku kemana aku harus melanjutkan sekolah?. Beliau mengatakan terserah kepadaku, aku malah tambah bingung, tapi diakhir beliau menyarankan bahwa tanpa di SMK pun aku bisa melanjutkan impianku. Aku bertanya pada saudaraku, dan jawaban yang sama pun mereka berikan kepadaku. Dan akhinya aku sudah menentukan Sekolah mana yang akan aku pilih.

Detik-detik menjelang ujian. Aku tak tau kenapa jantung ini berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Pengen rasanya aku berteriak, tapi aku tak mampu. Keringat dingin juga keluar dari badanku. Aku drop out, hampir tak sanggup mengerjakan soal-soal itu. Tapi keluarga juga mimpiku menguatkan aku.

Aku terus berdoa sambil mengerjakan soal-soal itu. Berharap tidak ambruk saat mengerjakan soal-soal ini hingga hari terakhir. Tiga hari berlalu. Haahhh, lega rasanya. Eitss, tunggu dulu! Masih ada ketegangan yang sepuluh kali lebih besar dari ini. Hari demi hari aku menunggu. Akhirnya hari H pun tiba. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tetap tak bisa. Hatiku bergemuruh, ‘jantungku mau copot!’ teriakku dalam hati.
“kamu kenapa,? Lebih baik kita ke mushola aja yuk, pasti bias lebih tenang.” Seseorang telah mengulurkan tangannya untuk diriku.

Aku tersenyum dan menyambut uluran tangan tersebut. Dan benar, saat aku berdiri di depan pintu hatiku merasa kesejukan. Badai yang menerpa hatiku mulai meredam. Kini hatiku merasa sejuk, seakan embun pagi membasahi hatiku. Aku terus berdoa, aku ingin yang terbaik untukku, keluargaku, sahabatku juga semuanya. Ingin rasanya aku menumpahkan isi hatiku, tapi aku masih belum sanggup. Hanya sedikit yang keluar, sedikit membuat hatiku merasa nyaman.

 Hari penentuan kelulusan pun tiba. Semua siswa yang lulus tertulis di daftar kelulusan di Mading sekolah. Rasanya sangat deg-degan sekali untuk melihatnya. Aku tidak melihatnya karena banyak sekali siswa yang berkumpul di depan daftar kelulusan. Hingga aku mendengar kata “kamu LULUS…” mendengar teriakan tersebut sepontan aku langsung terduduk dan bersujud syukur. “Terimakasih ya Allah kau mengabulkan do’aku”.

Aku dapat meneruskan Studiku, Begitu juga dengan semua sahabat putih biruku. Mereka mendapatkan apa yang mereka mimpikan dan mereka perjuangkan. Dan…sekali lagi aku sangat bahagia.
Contact

Send Us A Email

Address

ContactInfo

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Cupiditate veritatis modi, sunt atque, reprehenderit aut!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Cupiditate veritatis modi, sunt atque, reprehenderit aut!

Address:

25, Lomonosova St. Moscow, Russia, 665087

Phone:

+01 7070771723, +01 8956412305

Email:

support@myname.com